Jumat, 28 Januari 2011

cerita Inspirasi : STOP DREAM, START ACTION

Stop Dreaming Start Action untuk masa depan yang lebih baik
Ketika anda percaya maka akan terjadi perubahan yang besar terhadap diri anda. Dan itu tergantung anda dalam merespon perubahan tersebut, apakah besar atau kecil.
Dari kalimat yang sederhana diatas, tahukah anda bahwa kalimat tersebut memiliki makna yang sangat besar. Ketika anda memulai untuk percaya pada sesuatu, terutama dalam program jaringan kami, maka secara tidak sadar, akan terjadi PERUBAHAN BESAR dalam diri dan hidup anda. Tetapi tentunya itu semua tergantung dari tindakan respon atau action anda terhadap kepercayaan akan sesuatu, yang nantinya akan membawa perubahan besar.
Ketika anda sudah mempercayai, maka tindakan anda selanjutnya adalah meresponya dengan penuh antusias dan penuh tekad lebih tepatnya TAKE ACTION, inilah yang disebut respon yang besar. Karena respon yang besar akan benar-benar membawa anda untuk menuju ke dalam puncak perubahan besar. Tetapi jika anda hanya duduk diam tanpa melakukan apa-apa dan selalu hanya membayangkan, seandainya...seandainya..seandainya... Maka sudah dipastikan anda akan tetap terpuruk tanpa beranjak sedikitpun dari tempat duduk anda.
Apakah anda tahu bahwa perubahan besar itu tidak membutuhkan pengertian yang sangat besar dan luas akan sesuatu, tetapi walaupun memiliki pengertian yang kecil, penerapan dan tindakan dengan cara yang semaksimal mungkin akan membawa anda kepada perubahan besar. Mulailah tanam pada diri anda ” Stop Dreaming Start Action”, berhenti bermimpi dan segera mulai bertindak.
Kunci dalam sebuah perubahan adalah sebuah tindakan yang jelas, jangan menunda apalagi menyerah. Perubahan adalah sebuah pilihan. Jika anda menangkap suatu perubahan yang lebih baik adalah kesuksesa, maka kesuksesan adalah sebuah pilihan dan untuk mewujudkanya segeralah bertindak, mulailah untuk beranjak, berjalan dan kemudian anda bisa berlari dengan kencang.
Oleh karena itu janganlah anda merasa mudah menyerah ketika anda belum melakukan apa-apa untuk memulainya, karena dalam sebuah masa depan yang diperlukan adalah tekad dan tindakan. Jika anda sudah siap untuk action, anda juga bisa mengkampanyekan slogan stop dreaming start action dengan mengikuti kontes blog yang di adakan oleh pakar bisnis internet joko susilo, klikdi sini. Bagaimana sudahkah anda siap-siap untuk bangkit dan melanjutkan hidup dengan penuh tindakan? Salam sukses
Diposkan oleh BusinessMan di 23.34
Label: Motivasi Bisnis, Stop Dreaming Start Action

Cerita Inspirasi : SIAP MENDAPATKAN, HARUS SIAP KEHILANGAN



Bila Anda siap MENDAPATKAN, sudahkan Anda juga siap KEHILANGAN?
Memang, ada beragam cara menyikapi kehilangan. Dari mulai marah-marah, menangis, protes pada takdir, hingga bunuh diri. Masih ingatkah Anda pada tokoh-tokoh ternama, yang tega membunuh diri sendiri hanya karena sukses mereka terancam pudar?
Barangkali kisah yang saya adaptasi dari The Healing Stories karya GW Burns berikut ini, dapat memberikan inspirasi.
Alkisah, seorang lelaki keluar dari pekarangan rumahnya, berjalan tak tentu arah dengan rasa putus asa. Sudah cukup lama ia menganggur. Kondisi finansial keluarganya morat-marit. Sementara para tetangganya sibuk memenuhi rumah dengan barang-barang mewah, ia masih bergelut memikirkan cara memenuhi kebutuhan pokok keluarganya sandang dan pangan.Anak-anaknya sudah lama tak dibelikan pakaian, istrinya sering marah-marah karena tak dapat membeli barang-barang rumah tangga yang layak. Laki-laki itu sudah tak tahan dengan kondisi ini, dan ia tidak yakin bahwa perjalanannya kali inipun akan membawa keberuntungan, yakni mendapatkan pekerjaan.
Ketika laki-laki itu tengah menyusuri jalanan sepi, tiba-tiba kakinya terantuk sesuatu. Karena merasa penasaran ia membungkuk dan mengambilnya. "Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok-penyok," gerutunya kecewa. Meskipun begitu ia membawa koin itu ke sebuah bank. "Sebaiknya koin in Bapak bawa saja ke kolektor uang kuno," kata teller itu memberi saran. Lelaki itupun mengikuti anjuran si teller, membawa koinnya kekolektor. Beruntung sekali, si kolektor menghargai koin itu senilai 30 dollar.
Begitu senangnya, lelaki tersebut mulai memikirkan apa yang akan dia lakukan dengan rejeki nomplok ini. Ketika melewati sebuah toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu sedang diobral. Dia bisa membuatkan beberapa rak untuk istrinya karena istrinya pernah berkata mereka tak punya tempat untuk menyimpan jambangan dan stoples. Sesudah membeli kayu seharga 30 dollar, dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang. Di tengah perjalanan dia melewati bengkel seorang pembuat mebel. Mata pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu yang dipanggul lelaki itu. Kayunya indah, warnanya bagus, dan mutunya terkenal.
Kebetulan pada waktu itu ada pesanan mebel. Dia menawarkan uang sejumlah 100 dollar kepada lelaki itu.Terlihat ragu-ragu di mata laki-laki itu, namun pengrajin itu meyakinkannya dan dapat menawarkannya mebel yang sudah jadi agar dipilih lelaki itu. Kebetulan di sana ada lemari yang pasti disukai istrinya. Dia menukar kayu
tersebut dan meminjam sebuah gerobak untuk membawa lemari itu. Dia pun segera membawanya pulang. Di tengah perjalanan dia melewati perumahan baru.
Seorang wanita yang sedang mendekorasi rumah barunya melongok keluar jendela dan melihat lelaki itu mendorong gerobak berisi lemari yang indah. Si wanita terpikat dan menawar dengan harga 200 dollar. Ketika lelaki itu nampak ragu-ragu, si wanita menaikkan tawarannya menjadi 250 dollar. Lelaki itupun setuju. Kemudian
mengembalikan gerobak ke pengrajin dan beranjak pulang.
Di pintu desa dia berhenti sejenak dan ingin memastikan uang yang ia terima. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250 dollar. Pada saat itu seorang perampok keluar dari semak-semak,mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur.Istri si lelaki kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya seraya berkata, "Apa yang terjadi? Engkau baik saja kan?Apa yang diambil oleh perampok tadi? Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, "Oh,bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi".
Memang, ada beragam cara menyikapi kehilangan.
Semoga kita termasuk orang yang bijak menghadapi kehilangan dan sadar bahwa sukses hanyalah TITIPAN Allah. Benar kata orang bijak, manusia tak memiliki apa-apa kecuali pengalaman hidup. Bila Kita sadar kita tak pernah memiliki apapun, kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan?

CERITA INSPIRASI : BAHAGIA = BERSYUKUR



Pernah membayangkan, bagaimana seseorang menulis buku, bukan dengan tangan atau anggota tubuh lainnya, tetapi dengan kedipan kelopak mata kirinya?
Jika Anda mengatakan itu hal yang mustahil untuk dilakukan, tentu saja Anda belum mengenal orang yang bernama Jean-Dominique Bauby. Dia pemimpin redaksi majalah Elle, majalah kebanggaan Prancis yang digandrungi wanita seluruh dunia.
Betapa mengagumkan tekad dan semangat hidup maupun kemauannya untuk tetap menulis dan membagikan kisah hidupnya yang begitu luar biasa. Ia meninggal tiga hari setelah bukunya diterbitkan. Setelah tahu apa yang dialami si Jean dalam menempuh hidup ini, pasti Anda akan berpikir, "Berapa pun problem dan stres dan beban hidup kita semua, hampir tidak ada artinya dibandingkan dengan si Jean!"
Tahun 1995, ia terkena stroke yang menyebabkan seluruh tubuhnya lumpuh. Ia mengalami apa yang disebut locked-in syndrome, kelumpuhan total yang disebutnya "Seperti pikiran di dalam botol". Memang ia masih dapat berpikir jernih tetapi sama sekali tidak bisa berbicara maupun bergerak. Satu-satunya otot yang masih dapat diperintahnya adalah kelopak mata kirinya. Jadi itulah cara dia berkomunikasi dengan para perawat, dokter rumah sakit, keluarga dan temannya.
Begini cara Jean menulis buku. Mereka (keluarga, perawat, teman-temannya) menunjukkan huruf demi huruf dan si Jean akan berkedip apabila huruf yang ditunjukkan adalah yang dipilihnya. "Bukan main," kata Anda.
Ya, itu juga reaksi semua yang membaca kisahnya. Buat kita, kegiatan menulis mungkin sepele dan menjadi hal yang biasa. Namun, kalau kita disuruh "menulis" dengan cara si Jean, barang kali kita harus menangis dulu berhari-hari dan bukan buku yang jadi, tapi mungkin meminta ampun untuk tidak disuruh melakukan apa yang dilakukan Jean dalam pembuatan bukunya.
Tahun 1996 ia meninggal dalam usia 45 tahun setelah menyelesaikan memoarnya yang ditulisnya secara sangat istimewa. Judulnya, "Le Scaphandre" et le Papillon (The Bubble and the Butterfly).
Jean adalah contoh orang yang tidak menyerah pada nasib yang digariskan untuknya. Dia tetap hidup dalam kelumpuhan dan tetap berpikir jernih untuk bisa menjadi seseorang yang berguna, walaupun untuk menelan ludah pun, dia tidak mampu, karena seluruh otot dan saraf di tubuhnya lumpuh. Tetapi yang patut kita teladani adalah bagaimana dia menyikapi situasi hidup yang dialaminya dengan baik dan tetap menjadi seorang manusia (bahasa Sansekerta yang berarti pikiran yang terkendali), bahkan bersedia berperan langsung dalam film yang mengisahkan dirinya.
Jean, tetap hidup dengan bahagia dan optimistis, dengan kondisinya yang seperti sosok mayat bernapas. Sedangkan kita yang hidup tanpa punya problem seberat Jean, sering menjadi manusia yang selalu mengeluh..! Coba ingat-ingat apa yang kita lakukan. Ketika mendapat cuaca hujan, biasanya menggerutu. Sebaliknya, mendapat cuaca panas juga menggerutu. Punya anak banyak mengeluh, tidak punya anak juga mengeluh. Carl Jung, pernah menulis demikian: "Bagian yang paling menakutkan dan sekaligus menyulitkan adalah menerima diri sendiri secara utuh, dan hal yang paling sulit dibuka adalah pikiran yang tertutup!"
Maka, betapapun kacaunya keadaan kita saat ini, bagi yang sedang stres berat, yang sedang berkelahi baik dengan diri sendiri maupun melawan orang lain, atau anggota keluarga yang sedang tidak bahagia karena kebutuhan hidupnya tidak terpenuhi, yang baru mendapat musibah kecelakaan atau bencana, bagi yang sedang di-PHK, ingatlah kita masih bisa menelan ludah, masih bisa makan dan menggerakkan anggota tubuh lainnya. Maka bersyukurlah, dan berbahagialah...!
Jangan menjadi pengeluh, penggerutu, penuntut abadi, tapi bijaksanalah untuk bisa selalu think and thank (berpikir, kemudian berterima kasih/bersyukurl).
Dalam artikel yang berjudul Kegagalan & Kesuksesan Hasil Konsekuensi Pikiran dituliskan, seseorang yang sadar sepenuhnya, dia datang ke dunia ini hanya dibekali sebuah nyawa (jiwa). Nah, nyawa itu harus dirawat dengan menjalani kehidupan secara bertanggung jawab. Dengan nyawa ini pulalah, seseorang harus hidup bahagia, di manapun dia berada, dan dalam kondisi apapun, dia harus bisa bahagia. Kunci kebahagiaan adalah bersyukur! Mensyukuri apa yang kita dapat itu penting, termasuk sebuah nyawa agar kita bisa hidup di alam ini. Dan kebahagiaan bisa dibuat, dengan tidak meminta (menuntut) apapun pada orang lain, tetapi memberikan apa yang bisa diberikan kepada orang lain agar mereka bahagia. Jadilah seseorang yang merasa ada gunanya untuk kehidupan ini.
Untuk itu, Anda bisa mendengarkan intuisi sendiri sehingga bertindak sesuai nurani dan menghasilkan apa yang Anda inginkan dalam hidup. Hadapi hidup dengan tabah karena orang-orang beruntung bukan tidak pernah gagal.
Bukan tidak pernah ditolak, juga bukan tidak pernah kecewa. Justru banyak orang yang sukses itu sebetulnya orang yang telah banyak mengalami kegagalan.
Berpikirlah positif, Anda akan menjadi orang yang beruntung. Banyak cerita tentang keberuntungan berasal dari kejadian-kejadian yang tidak menguntungkan. Misalnya, kehilangan pekerjaan memunculkan ide besar untuk mulai bisnis sendiri dan menjadi majikan. Ditolak pun bisa mendatangkan kesuksesan. Tetapi, untuk mendapatkan keberuntungan diperlukan usaha.
Dan mulailah sekarang juga untuk berusaha!

Rabu, 26 Januari 2011

Inspirator Bagi Entrepreneur Pemula


Kisah tentangnya sebagai wirausahawan sukses yang berhasil memulai bisnis dari puing-puing kegagalan, telah mendorong sekaligus menyemangati para pebisnis pemula untuk berani memulai usaha. Irawan Purwono adalah seorang entrepreneur yang memiliki inspirasi yang kuat dalam berbisnis, sehingga namanya sangat layak untuk disejajarkan dengan para pempimpin perusahaan terkemuka dunia lainnya.

Bahkan, nama Irawan Purwono selaku Chief Executive Officer (CEO) PT Nusantara Compnet Integrator (CompNet) pernah masuk sebagai finalis World Entrepreneur of The Year (WOEY) Tahun 2004, sebuah gelanggang pertemuan tahunan para pemimpin tertinggi perusahaan-perusahaan terbaik dunia yang digelar oleh Ernst&Young di Monte Carlo, Monaco.

Ajang unjuk prestasi serta pemaparan semangat dan jiwa kewirausahaan (entrepreneurship) para CEO dari seluruh dunia, khusus di Indonesia penilaian para finalisnya dilakukan oleh sejumlah anggota Dewan Juri yang sudah dikenal piawai dan kompeten di bidangnya. Saat itu, mereka terdiri Mari E. Pangestu (kini Menteri Perdagangan RI), Eva Riyanti Hutapea, Noke Kiroyan, Stanley Atmadja, dan Sihol Siagian.

Kepada Dewan Juri, Irawan Purwono kelahiran Semarang 7 September 1960 lantas membeberkan secara terbuka semua kisah perjalanannya berbisnis berikut pasang-surut dan gagal-kisah sukses perjalanan perusahaan PT Nusantara Compnet Integrator (CompNet), sebuah entitas bisnis baru yang secara khusus menyediakan jasa pelayanan solusi total sistem integrasi jaringan komputer.

Integrasi sistem jaringan komputer antara lain berfungsi sebagai infrastruktur jaringan komunikasi dan informasi data bisnis dalam satu gedung (local areas network), hingga yang lebih luas antar gedung atau antar benua (wide area network).

Irawan Purwono, seorang insinyur teknik elektro lulusan ITB Bandung (September 1986), di hadapan dewan juri juga membuka semua kinerja keuangan perusahaan berikut unsur-unsur inovasi dan ide orisinil yang dimiliki membangun bisnis.
Demikian pula misi dan visi perusahaan yang didirikan oleh ayah tiga orang anak lelaki ini dalam mendirikan CompNet, hingga kini dikenal sebagai sebuah sistem integrator jaringan komputer terkemuka Indonesia.

Irawan juga mengutopiakan mimpi untuk membawa perusahaan menjadi sekelas MNC (mutinational companies), yang berbasis di Indonesia namun beroperasi di berbagai negara.

Finalis WEOY
Irawan Purwono memang belum berkesempatan untuk terpilih dan berangkat ke Monaco, mewakili Indonesia dalam forum World Entrepreneur of The Year (WEOY) yang dilangsungkan setahun kemudian pada 28 Mei 2005 di Monte Carlo, Monaco. Akan tetapi, ketika namanya diumumkan menjadi finalis saja sudah banyak kolega dan rekan-rekan bisnis yang kadung dengan segera memberikan ucapan selamat kepada Irawan, baik melalui telepon maupun SMS. Salah satu bunyinya, yang terbanyak terekam, antara lain, “Congratulations, You are setingkat Mochtar Riady”.

Ya, Mochtar Riady pendiri dan pemilik Grup Lippo yang juga dikenal sebagai “Filsuf Bisnis Keuangan”, bersama Irawan Purwono adalah nama-nama di antara 15 Finalis WEOY 2004.
Ini menunjukkan penilaian objektif dari para Dewan Juri, yang walau skala bisnis mereka berbeda namun keduanya memiliki nilai dan jiwa serta semangat kewirausahaan yang sama tinggi sehingga sukses membangun bisnis bermula dari bawah.

Ada nilai-nilai yang mempersamakan Irawan Purwono dan Mochtar Riady sehingga Dewan Juri layak menyejajarkan keduanya bersama yang lain sebagai finalis. Para finalis EoY 2004 memang sudah terbukti semua memiliki spirit entrepreneurship yang tangguh.

Selengkapnya nama-nama mereka adalah Garibaldi Thohir (PT Wahana Ottomitra Multiartha), Hariono (Dayu Group), Irawan Purwono (PT Nusantara Compnet Integrator), Johannes Oentoro (Yayasan Pelita Harapan), Mochtar Riady (Lippo Grup), Moetaryanto (Group Petrolog), Rijanto Joesoef (PT Surya Multi Indopack), Rudy Wanandi (PT Asuransi Wahana Tata), Saripin Taidy (PT Probesco Disatama), Setyono Djuandi Darmono (PT Jababeka Tbk), Simarba Atong Tjia (President Director & Owner, Cahaya Buana Intitama), Sumadi Kusuma (PT Ocean Global Shipping/Global Putra International Group), UT Murphy Hutagalung (Presdir Arion Paramita Holding Company), dan Zakiah Ambadar (Managing Director, PT Lembanindo Tirta Anugrah).

Berjaya di Saat Krisis
Irawan pun mahfum menjadi entrepreneur terkemuka rupanya bukan semata-mata ditentukan oleh besarnya revenue perusahaan, kapitalisasi, modal yang dimiliki, atau semata-mata hanya terbatas bagi para konglomerat yang sudah berhasil dan malang melintang di dunia bisnis.

Melainkan bagaimana sesungguhnya kegigihan para pendiri dalam membangun usaha, dan apa semangat yang menjiwai pengelolaan perusahaan hingga berhasil. Dan, justru ini menurut Irawan yang lebih terutama, apa saja inspirasi baru yang dapat ditawarkan oleh sang entrepreneur sampai-sampai bisa menulari banyak orang untuk berani terjun menjadi wirausahawan sejati.

Irawan Purwono awalnya bergerak hanya bersama lima orang sahabat, sebagai pendiri dan pemilik perusahaan saat memulai PT Nusantara Compnet Integrator (CompNet) Maret 1997, persis beberapa bulan sebelum krisis ekonomi berskala multidimensional melanda Indonesia.

Bisa dibayangkan, dalam kalkulasi bisnis saat itu adalah mustahil sebuah perusahaan yang baru berdiri apalagi memiliki komitmen kuat untuk hanya bergerak fokus pada bidang penyediaan jasa solusi total sistem integrasi jaringan komputer, dapat bertahan.

Sebab semua perusahaan yang potensial menjadi customer kekuatan daya beli dan determinasi mereka benar-benar sedang menghilang. Seperti kalangan perbankan, yang kebanyakan sudah dimasukkan ke program penyehatan di Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN).

Tetapi dengan semangat kewirausahaan yang tinggi Irawan berhasil memompa daya juang para karyawan yang jumlahnya masih terbatas, agar memiliki sikap yang tangguh dan keahlian yang tinggi, serta dapat dipertanggungjawabkan untuk membangun kepercayaan pelanggan.

Karena solusi sistem integrasi jaringan yang dibangun dimaksudkan untuk membuat pelanggan dapat menjalankan roda bisnis perusahaan menjadi lebih cepat, CompNet, yang menyediakan solusi justru di tengah-tengah krisis ekonomi yang sedang melanda, pada akhirnya dapat bertahan bahkan segera berhasil meraih kepercayaan pelanggan dalam waktu singkat.

CompNet berjaya justru di saat krisis memuncak. CompNet sukses membangun sejumlah instalasi jaringan komputer secara terintegrasi sesuai standar internasional.

Sebagai bukti keberhasilannya menyediakan solusi, tak berapa lama, atau hanya dua tahun sesudah berdiri CompNet tampil sebagai perusahaan lokal pertama yang berhasil meraih penghargaan sebagai “Cisco Silver Certified Partner” dari Cisco Systems Indonesia November 1999.

Sebuah pencapaian yang tidak mudah, sesungguhnya. Sebab terbukti untuk dapat naik pangkat menjadi “Gold Certified Partner of Cisco System”, CompNet membutuhkan waktu cukup lama hingga baru berhasil meraihnya pada Desember 2003.

Ketika meraihnya pun CompNet adalah perusahaan lokal pertama yang bisa mencapai predikat Gold Certified Partner of Cisco System.

Khusus dengan Cisco, CompNet merupakan partner yang dapat bekerjasama dengan baik. Sejumlah penghargaan lain masih bisa diraih yang membuktikan keeratan kemitraan keduanya.

Pada bulan Juli 1997, misalnya, CompNet mencapai predikat “Cisco System’s Premier Certified Partner”; April 1998 sebagai “The FIRST Local Company who has developed CCIE”; Januari 1999 sebagai “The Rising Star of the Year”; Agustus 1999 sebagai “The HIGHEST number of people certified by Cisco System”; November 1999 sebagai “The FIRST local (national) company who achieved “Silver Certified Partner of Cisco Systems”; Agustus 2000 sebagai “Cisco Spotlight Silver Partner of The Year”; November 2002 sebagai “The HIGHEST number of people certified by Cisco System”; dan akhirnya pada Desember 2003 meraih penghargaan “The FIRST local (national) company who achieved “Gold Partner of Cisco Systems”.

Bermodalkan Semangat Juang
Irawan Purwono, alumni ITB Bandung Jurusan Teknik Elektro yang diwisuda pada bulan September 1986, membangun CompNet nyaris dengan modal yang terbatas. Modal utama sesungguhnya adalah keinginan besar untuk menjadi seorang wirausahawan sejati yang disegani di berbagai negara.
Spirit ini didukung oleh berbagai pengalaman sebelumnya, antara lain sebagai sales dan system engineer di sejumlah perusahaan seperti PT Berca Indonesia selama tiga tahun (November 1986-Juni 1989), dan PT Metrodata Electronics selama 4,5 tahun (Juli 1989-Oktober 1993).

Demikian pula sebuah pengalaman pahit nan tak akan terlupakan ketika mencoba terjun untuk pertamakali membangun usaha sendiri bersama kawan-kawan sesama mantan alumni Metrodata PT UniPro Nuansa Indonesia (sejak November 1993 hingga Februari 1997).

Di perusahaan kongsi yang didirikan dan dimiliki secara bersama-sama ini Irawan secara berjenjang pernah bekerja sebagai system engineer, senior technical support engineer, technical support manager, sales manager hingga mencapai puncak tertinggi sebagai Presiden Direktur PT UniPro Nuansa Indonesia (sejak Desember 1995 hingga Feberuari 1997).

Irawan keluar dari UniPro untuk segera mendirikan lagi perusahaan baru PT Nusantara Compnet Integrator (CompNet). Saat perusahaan ini didirikan pada Maret 1997, jumlah pemain di bisnis sistem integrator (SI) masih bisa dihitung dengan jari. Itupun, rata-rata dimiliki oleh para konglomerat melalui perusahaan-perusahaan besar yang dimiliki.

Mereka mendirikan perusahaan SI hanya karena sudah memiliki divisi integrasi, yang di dalamnya mencakup bidang Teknologi Informasi (TI). Mereka misalnya Ciputra yang memiliki PT Metrodata Electronics, Mochtar Riady denganPT Multipolar, William Soerjadjaya dengan PT Astra Graphia divisi Information Technology (AGIT), dan Murdaya Poo dengan PT Berca Indonesia. Demikian pula dengan nama lain Liem Sioe Liong atau Soedarpo Sastrosutomo semua memiliki perusahaan TI tersendiri.

Yang pasti saat itu rata-rata pengusaha besar memiliki perusahaan TI walau tak semua berhasil menjalankannya dengan rapi dan sehat termasuk Ciputra.

“Saya tahu karena saya pernah kerja di sana,” ujar Irawan, yang memiliki rasa kebanggaan luar biasa sebagai engineer saat masih bekerja di PT Metrodata Electronics.

“Waktu itu bekerja di Metrodata bangga sekali. Semua bule didatangin sama dia (Ciputra, maksudnya –Red), disuruhnya datang ke ulang tahun Metrodata,” kata Irawan.

Walau CompNet merupakan pendatang baru, karena memiliki keberanian yang luar biasa pada akhirnya Irawan Purwono berhasil menembus barikade bisnis yang dipasang para konglomerat tadi. Sebab sistem integrator yang secara fokus digeluti CompNet lebih mengandalkan keterampilan dan keahlian tingkat tinggi berstandar internasional, bukan mengandalkan kapital besar atau sumberdaya manusia massif berbiaya mahal.

Irawan memperoleh keberuntungan lain memilih bisnis TI yang masih nonregulated sehingga ada kebebasan untuk berkompetisi secara sehat atau free competition.
Bisnis TI hanya membutuhkan 4-C yaitu company yang menjual jasa, customer yang membeli jasa, chain sebagai jaringan pemasaran jasa, dan competition yang memberi kebebasan berkompetisi menjual jasa secara fair.

Bisnis model TI berbeda misalnya dengan perusahaan listrik yang hanya memerlukan 2-C, yaitu company yang menjual listrik dan customer masyarakat sebagai pelanggan pembeli listrik.

CEO Visioner
Irawan membangun CompNet bersama lima orang sahabat. Modal usaha dikumpulkan urunan berenam. Perusahaan tak sekalipun beriklan atau promosi karena keterbatasan anggaran.

“Yang saya lakukan pertama kali adalah bagaimana menajamkan bidang yang mau kami geluti,” kata Irawan Purwono, seorang entrepreneur yang memiliki pandangan bisnis sangat visonir menjangkau jauh ke depan.
Pilihan untuk hanya fokus pada sistem integrator jaringan diilhami oleh masukan dari salah seorang staf pemasaran tentang teori pengorbanan (sacrifice) yang harus ada dalam marketing.

Salah satu poinnya, mengorbankan salah satu aspek dari organisasi yang dimiliki untuk menciptakan image yang mudah diterima pelanggan.

CompNet berhasil mengorbankan area usaha yang semula banyak sub-sub bidang, menjadi hanya fokus pada kompetensi sistem integrasi jaringan komputer (network integrator).

Maka jadilah CompNet memiliki trademark sebagai perusahaan sistem integrator jaringan komputer tanpa perlu membawa-bawa salah satu brand komputer atau sistem jaringan.

CompNet menempuh jalur berbeda dengan apa yang biasa dilakukan oleh konglomerat pemilik perusahaan TI, yang harus menggandeng nama prinsipal supaya bisa diterima pasar seperti merek-merek IBM, HP, DEC, Compaq, Acer, Sun, Oracle, Microsoft dan lain-lain. Kata CompNet Irawan definisikan sebagai Competent Partner in Networking.

Tindakan mempersempit bidang usaha atau pasar terbukti sangat begitu efektif meningkatkan pendapatan perusahaan.
Enam tahun sesudah berdiri CompNet tumbuh cepat hingga tampil menjadi pemimpin di semua kalangan perusahaan penyedia solusi sistem integrator jaringan.

Memiliki kantor operasional di Jakarta, Semarang, dan Surabaya CompNet menyediakan jasa ke semua bidang industri vertikal seperti industri perdagangan, manufaktur, perbankan, minyak dan gas hingga lembaga-lembaga pemerintah yang berkehendak membangun sistem integrasi jaringan komunikasi dan informasi data.

Cepatnya pertumbuhan CompNet seiring pula dengan meningkatnya kepercayaan pelanggan. CompNet sangat mengandalkan kemampuan teknik, kecepatan, dan semangat juang dalam memberikan servis sebagai satu-satunya kata kunci keberhasilan perusahaan sesuai visi yang telah digariskan Irawan Purwono.

Birokratisasi di-minimize serendah mungkin untuk memotong sistem prosedur yang biasa terjadi di perusahaan-perusahaan besar.

Keterampilan dan keahlian yang dimiliki oleh semua karyawan dimobilisasi supaya mampu mendukung visi perusahaan berjalan efisien, terlebih saat modal kerja yang dimiliki masih belum sebesar sekarang.

Karyawan yang notabene juga pendiri perusahaan diberi kebebasan untuk membuat keputusan sendiri kecuali apabila menghadapi tembok kesulitan atau sedang diperhadapkan pada pilihan-pilihan yang beresiko tinggi. Kalau itu kejadiannya barulah berkonsultasi dengan “Sang CEO Entrepreneur yang Inspiratif” Irawan Purwono.

“Jika pelanggan puas dengan servis yang kami berikan, kemungkinan mereka akan memberitakan informasi tersebut dan menyebarluaskannya ke para kolega. Pemasaran seperti ini lebih efektif dan bersifat natural karena dituntut memberikan kemampuan dan keahlian terhadap servis yang dilakukan agar memuaskan bagi pelanggan,” kata Irawan, merujuk betapa CompNet dapat bergerak maju apa adanya tanpa polesan mesin pencitraan public relation, sebagaimana biasa dilakukan oleh perusahaan besar yang semata-mata lebih mengandalkan pencitraan artifisial.

Bermula Belasan Ribu Dollar AS
Karena itu Irawan Purwono tak sungkan untuk langsung menerima, apabila awalnya ia hanya dipercaya customer untuk mengerjakan proyek-proyek kecil bernilai belasan ribu dolar AS.

Irawan yakin angka-angka ini secara perlahan tapi pasti akan meningkat terus menjadi puluhan ribu, ratusan ribu bahkan hingga jutaan dollar AS.

Sebab terbuktilah sejak tahun 1999 CompNet mulai dipercaya menangani proyek senilai 300 ribu dolar AS, setahun kemudian melesat dipercaya menangani proyek telekomunikasi data pada bank BCA senilai 1,3 juta dolar AS.

Proyek ini sesungguhnya bernilai 2 juta dolar AS. Namun oleh owner terpaksa dibagi dengan kompetitor yang memang merupakan pemain lama di bidang ini bahkan rajanya untuk tingkat Asia Pasifik sebagai penyedia sistem integrator jaringan. CompNet dengan legowo bersedia menerima jalur kompromi daripada nanti malah dihantamin terus-menerus.

Lalu pada tahun 2003 CompNet bergabung dengan lima perusahaan lain dalam sebuah konsorsium pimpinan PT Mitra Integrasi Informatika, sebuah perusahaan sistem integrator milik Metrodata Group.

CompNet bersama konsorsium berhasil menyelesaikan proyek sistem jaringan telekomunikasi data Komisi Pemilihan Umum (KPU) senilai Rp 152 miliar, digunakan untuk keperluan Pemilu 2004.

“Yang jelas ada campur tangan Tuhan dalam semua langkah bisnis kami. Ya, mungkin Tuhan bersimpati sama saya,” kata Irawan mengenang kembali ucapan teman-teman tatkala limbung sebab pecah kongsi dengan para sahabat di PT UniPro Nuansa Indonesia.

Sahabat seakan menghibur saja tatkala mengatakan, Tuhan pasti akan menggantikan kerugian yang dialami tahun 1997 beratus kali ganda.

Sekelas Entrepreneur Dunia
Referensi keberhasilan menyelesaikan sejumlah kontrak pekerjaan dari owner sekelas Citibank, BP-ARCO, Bank BCA, Djarum, Ditjen Pajak hingga KPU, bagi Irawan sarat dengan nilai-nilai semangat kejuangan selaku entrepreneur.

Sebagai entrepreneur Irawan tak hanya bertindak sebagai pemimpin puncak di sebuah perusahaan sekaligus sebagai pemilik. Namun yang terutama dia seseorang yang memiliki jiwa yang harus bertanggungjawab atas segala perjalanan perusahaan dengan memikul resiko baik untung ataukah rugi.
Kesadaran ini ia kecap berdasarkan definisi kamus Oxford mengenai siapakah entrepreneur yang sesungguhnya itu. Yakni, a person who undertakes an enterprise or business, with the chance of profit or loss.

Kewirausahaan Irawan sangat pas pula dengan definisi entrepreneur yang pernah diungkapkan oleh Ciputra, mantan bosnya di PT Metrodata Electronics.

Filsuf pengembang properti ini dalam sebuah terbitan buku berjudul “10 Momen Penentu Seorang Entrepreneur Ir Ciputra” tulisan Antonius Tanan, menyebutkan, “Entrepreneur adalah seseorang yang inovatif dan mampu mewujudkan cita-cita kreatifnya. Seorang entrepreneur akan mengubah padang ilalang jadi kota baru, pembuangan sampah menjadi resor yang indah, kawasan kumuh menjadi pencakar langit tempat ribuan orang bekerja. Entrepreneur mengubah kotoran dan rongsokan menjadi emas.”

Cerita sungguhan (a true story) bagaimana Irawan memulai usaha sama persis pula dengan cerita para pelaku bisnis teknologi informasi kelas dunia lain yang rata-rata memulainya dengan cara yang sangat sederhana sekali.

Seperti yang dilakukan oleh duo William Reddington Hewlett dan David Packard, keduanya lulusan Stanford University, AS, yang mendirikan sekaligus menjadi pemilik Hewlett-Packard Development Company (HP) sebuah perusahaan teknologi informasi terbesar dunia. Duo ini memulai HP tahun 1934 bermula dari garasi mobil.

Demikian pula dengan hakekat cerita mengenai Bill Gates pendiri Microsoft yang harus cepat-cepat keluar dari kampus hingga tak sempat lulus kuliah demi memuaskan hajat memulai bisnis mengembangkan piranti lunak komputer.
Bahkan Bill Gates seorang filantropis dan orang terkaya dunia dengan catatan kekayaan melebihi 50 miliar dollar AS, pada akhirnya berhasil mengungguli “The Deep Blue” IBM di bidang sistem operasi personal computer (PC).

Michael Dell pendiri Dell Computer tak jauh berbeda kisah perjalanan hidupnya dengan Irawan Purwono sebagai sesama entrepreneur. Dell memulai bisnis dari kamar kost saat masih menjadi mahasiswa di University of Texas tahun 1983 dalam usia 18 tahun. Dengan modal awal seribu dollar AS Dell mulai menjual komputer yang dirakit sesuai pesanan. Ia melakukan berbagai hal untuk menjual komputer rakitan termasuk menjalankan bisnis secara door to door.

Menginjak tahun 1994 Dell secara inovatif mulai menjual komputer melalui internet dan hasilnya luar biasa sekali. Saat ini penjualan Dell melebihi 50 juta dolar perhari, secara keseluruhan nilai total perusahaan melebihi 31 miliar dolar.
Dell menyebutkan, seorang entrepreneur adalah orang yang memiliki ide baru atau berbeda serta berani mengambil resiko dan bekerja keras untuk mewujudkannya.

Untuk ukuran Indonesia Irawan Purwono sudah melakukan bahkan menjadi inspirasi bisnis yang kuat bagi para calon entrepreneur muda untuk berani memulai bisnis baru.

Filosofi “HILLS”
Dalam berbisnis Irawan seorang penganut agama Katolik yang taat, sangat memahami betul filosofi Santo Franciscus d’Assisi yang mengatakan, “Do what is needed, then do what is possible, and suddenly, you will realize that you have done the impossible”.

Di lingkungan perusahaan Irawan kemudian menumbuhkan sebuah filosofi baru sebagai spirit bersama yang terangkum dalam intisari kata “HILLS”.

HILLS adalah singkatan dari lima kata yakni: Helpful, hidup yang senang membantu dan menolong; Integrity, hidup yang menekankan kejujuran dan integritas dalam bekerja; Love, hidup yang menumbuhkan rasa cinta dan loyalitas abadi kepada perusahaan; Learn, hidup yang terbuka dan senang belajar tanpa henti secara berkelanjutan; serta Spirit of Excellence yaitu hidup yang bersemangat untuk selalu memberikan yang terbaik bagi perusahaan.

Irawan menghabiskan waktu bekerja di kantor paling tidak 12 jam sehari, bahkan bisa lebih. Kondisi ini didukung posisi rumah dan kantor yang saling bersebelahan, terletak di Jalan Kemanggisan Utama Raya Nomor 26, Jakarta Barat.

Di kantor inilah Irawan yang berhasil mengubahkan “wajah ilmiahnya” yang cenderung introvert menjadi wajah baru yang ekstovert hingga layak menjadi salesman dan marketer yang terbaik bagi perusahaan, aktif menjalankan bisnis. Irawan sehari-hari selalu tampil penuh semangat dan gembira terutama saat berdiskusi dengan para karyawan untuk memecahkan berbagai macam persoalan.

Sebagai entrepreneur yang relatif masih berusia muda Irawan rajin sekali membagi-bagikan visi bisnisnya ke semua orang. Ia juga memberikan motivasi, menunjukkan dukungan terhadap ide-ide orisinal, sekaligus menyuarakan peringatan-peringatan sebagai warning. Irawan pasti akan menyambut gembira setiap keberhasilan yang diraih karyawan. ►e-ti/ht

Berbagai Bentuk Crop Circle





Mahasiswa UGM Mengaku Pembuat Crop Circle Sleman

Sejumlah mahasiswa mengaku membuat crop circle yang ditemukan di tengah sawah di Dusun Rojosari, Desa Jogotirto, Berbah, Sleman, Yogyakarta. Pengakuan itu mereka nyatakan dalam situs Studentmagz.com.
Tulisan di situs itu menyebutkan, crop circle di Sleman dibuat seorang mahasiswa Fakultas MIPA Universitas Gadjah Mada. Tapi sang mahasiswa yang dikenal jago matematika dan internet itu tak bekerja sendiri. Dia dibantu enam temannya.
Sang mahasiswa yang sampai kini belum diketahui namanya itu mengaku, sengaja membuat jejak benda terbang tak dikenal alias UFO buat mencari sensasi. Menurut dia, itu sebagai ajang pembuktian kalau mereka memang jago matematika dan desain (metrotvnews.com).
Lansiran studentmagz di bawah ini:
”Kami yang membuat jejak UFO ini adalah anak-anak Sains MTK dan Pertanian,” terang mahasiswa yang setahu saya baru tamat SMA tahun 2008 ini. Si mahasiswa memang cukup pintar soal Matematika dan gila internet. Sayangnya, si mahasiswa tidak mau memberi tahu menggunakan alat apa mereka membuatnya. Sebenarnya masih banyak lagi isi sms dan chat kami lewat FB yang sengaja tidak diterbitkan.
Secara logika, dapat kita ketahui mahasiswa gokil ini menggunakan pembajak sawah yang beroda, melihat dari hasil jejak crop circle yang disebut warga jejak UFO itu.
Lihat saja Padi yang mereka gilas jatuhnya searah. Menurut mahasiswa berambut cepak dan berkacamata ini (maaf kalau ditulis ya bro ciri-cirinya), pembuatannya sangat rumit, mereka merancang dengan baik-baik menggunakan desain dan ilmu hitung Matematika dengan sangat teliti.
Crop circle adalah pola lingkaran misterius berbentuk simetris. Crop cirle di Sleman, berdiameter 60 centimeter sampai 70 cm. Walau banyak ditemukan di sejumlah tempat, toh fenomena ini tetap menjadi teka-teki.
Atau malah ini adalah sensasi lain?
lihat di studentmagz
**Laras Bambang K.**